Aksara Jawa, sering lagi digempar-gemparkan oleh pemerintah,
bapak / ibu guru di sekolah maupun oleh lembaga seni dan budaya yang
terkait. Aksara Jawa, memang dibilang huruf Jawa yang sudah lama di
ciptakan oleh nenek moyang kita di Jawa. Dalam penulisannyapun aksara Jawa
terpengaruh dengan logat Jawa. Sehingga orang luar Jawa dalam pembacaan atau
penulisan Aksara Jawa sedikit mengalami kesulitan. Namun jangan khawtir. Semua
itu pasti ada jalannya jika kita mau berusaha, berlatih, dan terus mencoba.
Tentunya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aksara jawa ini merupakan bahan materi pokok pelajaran
Muatan local untuk DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA dan SURAKARTA. Aksara jawa ini
mulai diajarkan sejak Sekolah Dasar kelas empat, pada zaman saya masih duduk di
bangku Sekolah Dasar. Mengsikan sekali saat pertama kali dikenalkan dengan
aksara jawa itu. Pertamanya memang sedikit bingung. Namun sampe sekarang saya
sudah lancer menulis aksara jawa.
Konon menurut cerita kakek-kakek atau orang tua, asal mula
terbentuknya aksara Jawa atau huruf Jawa, adalah symbol atau hal yang digunakan
untuk mengingant suatu peristiwa. Awalnya ada seorang pujangga yang bernama
Prabu Ajisaka. Beliau adalah pemuda yang sakti, arif, dan sangat bijaksana.
Prabu Ajisaka memiliki dua punggawa bernama Dora dan Sembada. Keduanya adalah
punggawa yang setia kepada tuannya.
Suatu saat, Prabu Ajisaka berkelana meniggalkan kediamannya
di Pulau Majethi. Belian bersama salah seorang punggawanya, Dora. Sebelum
pergi, Prabu Ajisaka berpesan kepada punggawanya yang tetap tiggal di Pulau
Majethi, Sembada. “Jangan kau serahkan pusaka ini ke siapapun, kucuali aku yang
mengambilnya sediri,” kata Prabu Ajisaka.
Perjalannan pun berlangsung, ditengah-tengah perjalanan,
Prabu Ajisaka dan Dora menemui masalah di Madhangkemulan. Disitulah
Prabu Ajisaka berhenti, dan memerintahkan Dora untuk kembali dan mengambil
pusaka yang dititipkan Sembada. Sembada yang patuh dan setia kepada Prabu
Ajisaka tidak mau memberikan pusaka itu kepada Dora. Akhirnya keduanya bertarung.
Kedua-duanya mati.
Prabu Ajisaka menciptakan sebuah karya yang berbunyi :
Ha na ca ra ka
Ana utusan (ada utusan)
Da ta saw a la
Pada-pada gelut (saling bertengkar)
Pa da ja ya nya
Pada ampuhe (sama kehebatanyan)
Ma ga ba tha nga
Padha dadi batang (sama jadi bangkai)
bisa juga dituliskan sebagai berikut!

Aksara jawa kini dengan berbagai applikasi dan software yang
sudah mudah untuk ditulis melalui computer. Namun jika anda ingin
menpelajarinya secara manualpun pasti mengasikkan.
EmoticonEmoticon